Ini
sebenarnya bukan masalah besar, karena yang namanya juga dunia buku,
yang penting itu bukunya ada, pembacanya suka, bermanfaat. Tidak penting
siapa yang menulis, mau dia orang Amerika, atau planet Mars sekalipun.
Daripada kita sibuk berisik bilang tentang minat baca, atau karya lokal,
eh, kita justeru sama sekali tidak baca dan tidak ikut menulis, itu
sama saja berisik tak berguna. Tapi meskipun demikian, fakta bahwa novel
fantasi lokal seperti macan ompong menghadapi fantasi LN tetap menarik
dipikirkan.
Saya memikirkan soal ini sejak lama. Apakah Indonesia kekurangan muatan lokal yang bisa dijadikan fantasi? Bukankah negeri ini dikenal dengan dongeng2 mahsyur? Legenda2 hebat. Lihat gunung misalnya, hampir semua gunung ada legendanya. Lihat danau, sungai, lembah, kota, tempat, hampir semua punya. Kita sesungguhnya kaya sekali dengan cerita fantasi. Lantas apa masalahnya? Kenapa tidak ada novel fantasi lokal yang bisa menghadapi buku2 LN tersebut. Ini bukan soal patriotisme, bukan. Ini simpel tentang, betapa besarnya pasar pembaca fantasi yg tidak digarap serius. Itu menjanjikan. Maka baiklah, saya mulai memikirkan formula terbaik soal fantasi ini. Agar remaja2 kita punya alternatif bacaan selain karya luar negeri. Berbagai survey saya lemparkan di page facebook ini, mungkin kalian tidak menyadarinya, tapi survey2 itu menjadi pondasi serial fantasi.
Tahun 2014 saya merilis novel fantasi tersebut, BUMI. Apa tanggapannya? Selow sekali. Dibanding novel2 roman, seperti “Rindu” atau “Hujan”, novel BUMI jauh sekali penjualannya. Setahun penjualan BUMI hanya sebanding penjualan Rindu dan Hujan selama seminggu (agak lebay memang, tapi begitulah faktanya). Padahal, menulisnya sama2 menghabiskan waktu, sama2 membutuhkan riset, dll. Tapi sy tidak akan putus asa, toh, pembaca belum kenal dan tahu saja ini novel apa, waktu dulu merilis novel Hafalan Shalat Delisa, orang2 lebih bingung lagi. Itu buku malah diletakkan di rak ‘Buku Belajar Shalat’. Waduh, ada jenis shalat baru, bukan tahajud atau tarawih, melainkan shalat delisa. Ini pengarangnya bid’ah kayaknya. Jika pembaca sudah kenal, semoga mereka bersedia membacanya.
Tahun 2015 saya meluncurkan novel keduanya, BULAN. Apa tanggapannya? Mulai terlihat geliatnya. Serial ini mulai meyakinkan. Saya semakin semangat dan antusias, menyaksikan remaja2 Indonesia mulai membaca serial ini, mulai menjadikannya topik percakapan ringan, dll. Bahkan satu-dua mulai emosional sekali dengan tokoh dan jalan cerita. Maka, tahun 2016 ini, baru saja, saya merilis buku ketiganya, MATAHARI.
Saya tidak bilang serial ini adalah karya terbaik. No way. Novel ini justeru ringan sekali, namanya juga fantasi remaja. Satu-dua kritikus novel menghabisi novel ini, kolom sastra media nasional mana mau membahasnya, pembaca2 tertentu juga masih sibuk membanding2kannya dengan karya luar negeri, selalu underestimate dengan pengarang lokal, tapi itu bukan poin pentingnya. Poin pentingnya adalah saya ingin ada alternatif bacaan fantasi bagi remaja kita. Fantasi remaja dengan muatan lokal. Hei, orang bisa terbang, dll itu bukan cuma bisa dibuat di Amerika sana, tapi juga di sini, saat mereka naik angkot, naik ojek, sekolah SMA, ekskul, belajar bareng, dll, juga bisa ada kisah fantasinya. Serial ini adalah salah-satu alternatif bacaan tersebut.
Satu bulan novel Matahari rilis, penjualannya mulai mengagumkan. Di daftar best seller beberapa toko buku besar, novel ini duduk dengan manisnya di atas buku terbaru J.K. Rowling, Harry Potter & Cursed Child. Sekali lagi, saya tidak bilang novel ini lebih baik dibanding tulisan Rowling, impossible, jelas sekali serial Harry Potter lebih baik, tapi setidaknya, kita punya alternatif bacaan fantasi karya lokal. Siapapun bisa membuat novel fantasi yg lebih baik sekarang, insya Allah, pasarnya ada, pembelinya ada.
*Tere Liye
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum
My Opinion:
Setuju banget sama artikelnya om tere.
Novel fantasi karya lokal memang bagus banget, saya rasa gak kalah sama novel fantasi LN (meskipun saya gak suka fantasi LN, tapi sepertinya begitu hehe).
Novel fantasi karya om tere bener-bener bikin imajinasi saya jalan dan liar, saya seolah-olah bisa ikut merasakan ada di dalam cerita itu, dan bisa ngerasain sensasi ketegangan dan keseruannya berpetualang ke dunia paralel. Dimana dunia yang digambarkan dalam novel-novel om tere seperti nyata.
Meskipun ini novel fantasi, namun isi dari novel om tere untuk saya pribadi banyak banget ngasih pelajaran dan pemahaman. Terutama tentang persahabatan, tentang kehidupan juga hehe. Jauh dari hal percintaan (disini kelebihannya, menurut saya).
Saya udah nyelesain dua petualangan dunia paralel, yaitu di klan bulan (novel BUMI) dan di klan matahari (novel BULAN), sekarang saya lagi baca serial MATAHARI, udah lagi asik siap-siap mau berpetualang lagi ke dunia paralel yang lain (klan bintang), mau berimajinasi lagi jadi Ra hehe.
Saya memikirkan soal ini sejak lama. Apakah Indonesia kekurangan muatan lokal yang bisa dijadikan fantasi? Bukankah negeri ini dikenal dengan dongeng2 mahsyur? Legenda2 hebat. Lihat gunung misalnya, hampir semua gunung ada legendanya. Lihat danau, sungai, lembah, kota, tempat, hampir semua punya. Kita sesungguhnya kaya sekali dengan cerita fantasi. Lantas apa masalahnya? Kenapa tidak ada novel fantasi lokal yang bisa menghadapi buku2 LN tersebut. Ini bukan soal patriotisme, bukan. Ini simpel tentang, betapa besarnya pasar pembaca fantasi yg tidak digarap serius. Itu menjanjikan. Maka baiklah, saya mulai memikirkan formula terbaik soal fantasi ini. Agar remaja2 kita punya alternatif bacaan selain karya luar negeri. Berbagai survey saya lemparkan di page facebook ini, mungkin kalian tidak menyadarinya, tapi survey2 itu menjadi pondasi serial fantasi.
Tahun 2014 saya merilis novel fantasi tersebut, BUMI. Apa tanggapannya? Selow sekali. Dibanding novel2 roman, seperti “Rindu” atau “Hujan”, novel BUMI jauh sekali penjualannya. Setahun penjualan BUMI hanya sebanding penjualan Rindu dan Hujan selama seminggu (agak lebay memang, tapi begitulah faktanya). Padahal, menulisnya sama2 menghabiskan waktu, sama2 membutuhkan riset, dll. Tapi sy tidak akan putus asa, toh, pembaca belum kenal dan tahu saja ini novel apa, waktu dulu merilis novel Hafalan Shalat Delisa, orang2 lebih bingung lagi. Itu buku malah diletakkan di rak ‘Buku Belajar Shalat’. Waduh, ada jenis shalat baru, bukan tahajud atau tarawih, melainkan shalat delisa. Ini pengarangnya bid’ah kayaknya. Jika pembaca sudah kenal, semoga mereka bersedia membacanya.
Tahun 2015 saya meluncurkan novel keduanya, BULAN. Apa tanggapannya? Mulai terlihat geliatnya. Serial ini mulai meyakinkan. Saya semakin semangat dan antusias, menyaksikan remaja2 Indonesia mulai membaca serial ini, mulai menjadikannya topik percakapan ringan, dll. Bahkan satu-dua mulai emosional sekali dengan tokoh dan jalan cerita. Maka, tahun 2016 ini, baru saja, saya merilis buku ketiganya, MATAHARI.
Saya tidak bilang serial ini adalah karya terbaik. No way. Novel ini justeru ringan sekali, namanya juga fantasi remaja. Satu-dua kritikus novel menghabisi novel ini, kolom sastra media nasional mana mau membahasnya, pembaca2 tertentu juga masih sibuk membanding2kannya dengan karya luar negeri, selalu underestimate dengan pengarang lokal, tapi itu bukan poin pentingnya. Poin pentingnya adalah saya ingin ada alternatif bacaan fantasi bagi remaja kita. Fantasi remaja dengan muatan lokal. Hei, orang bisa terbang, dll itu bukan cuma bisa dibuat di Amerika sana, tapi juga di sini, saat mereka naik angkot, naik ojek, sekolah SMA, ekskul, belajar bareng, dll, juga bisa ada kisah fantasinya. Serial ini adalah salah-satu alternatif bacaan tersebut.
Satu bulan novel Matahari rilis, penjualannya mulai mengagumkan. Di daftar best seller beberapa toko buku besar, novel ini duduk dengan manisnya di atas buku terbaru J.K. Rowling, Harry Potter & Cursed Child. Sekali lagi, saya tidak bilang novel ini lebih baik dibanding tulisan Rowling, impossible, jelas sekali serial Harry Potter lebih baik, tapi setidaknya, kita punya alternatif bacaan fantasi karya lokal. Siapapun bisa membuat novel fantasi yg lebih baik sekarang, insya Allah, pasarnya ada, pembelinya ada.
*Tere Liye
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum
My Opinion:
Setuju banget sama artikelnya om tere.
Novel fantasi karya lokal memang bagus banget, saya rasa gak kalah sama novel fantasi LN (meskipun saya gak suka fantasi LN, tapi sepertinya begitu hehe).
Novel fantasi karya om tere bener-bener bikin imajinasi saya jalan dan liar, saya seolah-olah bisa ikut merasakan ada di dalam cerita itu, dan bisa ngerasain sensasi ketegangan dan keseruannya berpetualang ke dunia paralel. Dimana dunia yang digambarkan dalam novel-novel om tere seperti nyata.
Meskipun ini novel fantasi, namun isi dari novel om tere untuk saya pribadi banyak banget ngasih pelajaran dan pemahaman. Terutama tentang persahabatan, tentang kehidupan juga hehe. Jauh dari hal percintaan (disini kelebihannya, menurut saya).
Saya udah nyelesain dua petualangan dunia paralel, yaitu di klan bulan (novel BUMI) dan di klan matahari (novel BULAN), sekarang saya lagi baca serial MATAHARI, udah lagi asik siap-siap mau berpetualang lagi ke dunia paralel yang lain (klan bintang), mau berimajinasi lagi jadi Ra hehe.
Dan saya gak sabar nunggu serial berikutnya, novel BINTANG, yang katanya om tere langsung (saat Meet & Greet) bakalan terjadi perang antar dunia paralel. Ini pasti makin seru.
Pokoknya recommended banget lah novel fantasi nya om tere buat jadi bacaan ringan tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik.
Semoga ada pembaca yang suka juga dengan novel-novel TereLiye, jadi kita bisa saling pinjam novel dan nyeritain keseruan baca novel fantasinya om tere haha absurd ya :'D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar