Rabu, 31 Agustus 2016

Novel Fantasi Lokal - TereLiye

Serbuan novel2 fantasi luar negeri di Indonesia bukan rahasia lagi. Berpuluh tahun, segmen buku fantasi Indonesia dikuasai oleh karya2 terjemahan LN. Mulai dari Harry Potter, Twilight, Hunger Games, Percy Jackson, Narnia, sebutkan semua judul novel fantasi yang ngetop di Indonesia, hampir semuanya adalah karya terjemahan. Karya penulis Indonesia? Wah, kita akan kesulitan menyebutkan bahkan satu saja. Remaja2 kita (terutama), lumrah sekali terlihat membawa novel2 fantasi luar negeri ini, karena mau dibilang apa, ditambahkan dengan filmnya, lengkap sudah hegemoni fantasi luar negeri.

Ini sebenarnya bukan masalah besar, karena yang namanya juga dunia buku, yang penting itu bukunya ada, pembacanya suka, bermanfaat. Tidak penting siapa yang menulis, mau dia orang Amerika, atau planet Mars sekalipun. Daripada kita sibuk berisik bilang tentang minat baca, atau karya lokal, eh, kita justeru sama sekali tidak baca dan tidak ikut menulis, itu sama saja berisik tak berguna. Tapi meskipun demikian, fakta bahwa novel fantasi lokal seperti macan ompong menghadapi fantasi LN tetap menarik dipikirkan.

Saya memikirkan soal ini sejak lama. Apakah Indonesia kekurangan muatan lokal yang bisa dijadikan fantasi? Bukankah negeri ini dikenal dengan dongeng2 mahsyur? Legenda2 hebat. Lihat gunung misalnya, hampir semua gunung ada legendanya. Lihat danau, sungai, lembah, kota, tempat, hampir semua punya. Kita sesungguhnya kaya sekali dengan cerita fantasi. Lantas apa masalahnya? Kenapa tidak ada novel fantasi lokal yang bisa menghadapi buku2 LN tersebut. Ini bukan soal patriotisme, bukan. Ini simpel tentang, betapa besarnya pasar pembaca fantasi yg tidak digarap serius. Itu menjanjikan. Maka baiklah, saya mulai memikirkan formula terbaik soal fantasi ini. Agar remaja2 kita punya alternatif bacaan selain karya luar negeri. Berbagai survey saya lemparkan di page facebook ini, mungkin kalian tidak menyadarinya, tapi survey2 itu menjadi pondasi serial fantasi.

Tahun 2014 saya merilis novel fantasi tersebut, BUMI. Apa tanggapannya? Selow sekali. Dibanding novel2 roman, seperti “Rindu” atau “Hujan”, novel BUMI jauh sekali penjualannya. Setahun penjualan BUMI hanya sebanding penjualan Rindu dan Hujan selama seminggu (agak lebay memang, tapi begitulah faktanya). Padahal, menulisnya sama2 menghabiskan waktu, sama2 membutuhkan riset, dll. Tapi sy tidak akan putus asa, toh, pembaca belum kenal dan tahu saja ini novel apa, waktu dulu merilis novel Hafalan Shalat Delisa, orang2 lebih bingung lagi. Itu buku malah diletakkan di rak ‘Buku Belajar Shalat’. Waduh, ada jenis shalat baru, bukan tahajud atau tarawih, melainkan shalat delisa. Ini pengarangnya bid’ah kayaknya. Jika pembaca sudah kenal, semoga mereka bersedia membacanya.

Tahun 2015 saya meluncurkan novel keduanya, BULAN. Apa tanggapannya? Mulai terlihat geliatnya. Serial ini mulai meyakinkan. Saya semakin semangat dan antusias, menyaksikan remaja2 Indonesia mulai membaca serial ini, mulai menjadikannya topik percakapan ringan, dll. Bahkan satu-dua mulai emosional sekali dengan tokoh dan jalan cerita. Maka, tahun 2016 ini, baru saja, saya merilis buku ketiganya, MATAHARI.

Saya tidak bilang serial ini adalah karya terbaik. No way. Novel ini justeru ringan sekali, namanya juga fantasi remaja. Satu-dua kritikus novel menghabisi novel ini, kolom sastra media nasional mana mau membahasnya, pembaca2 tertentu juga masih sibuk membanding2kannya dengan karya luar negeri, selalu underestimate dengan pengarang lokal, tapi itu bukan poin pentingnya. Poin pentingnya adalah saya ingin ada alternatif bacaan fantasi bagi remaja kita. Fantasi remaja dengan muatan lokal. Hei, orang bisa terbang, dll itu bukan cuma bisa dibuat di Amerika sana, tapi juga di sini, saat mereka naik angkot, naik ojek, sekolah SMA, ekskul, belajar bareng, dll, juga bisa ada kisah fantasinya. Serial ini adalah salah-satu alternatif bacaan tersebut.

Satu bulan novel Matahari rilis, penjualannya mulai mengagumkan. Di daftar best seller beberapa toko buku besar, novel ini duduk dengan manisnya di atas buku terbaru J.K. Rowling, Harry Potter & Cursed Child. Sekali lagi, saya tidak bilang novel ini lebih baik dibanding tulisan Rowling, impossible, jelas sekali serial Harry Potter lebih baik, tapi setidaknya, kita punya alternatif bacaan fantasi karya lokal. Siapapun bisa membuat novel fantasi yg lebih baik sekarang, insya Allah, pasarnya ada, pembelinya ada.

*Tere Liye

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamu'alaikum 

My Opinion:

Setuju banget sama artikelnya om tere. 
Novel fantasi karya lokal memang bagus banget, saya rasa gak kalah sama novel fantasi LN (meskipun saya gak suka fantasi LN, tapi sepertinya begitu hehe). 

Novel fantasi karya om tere bener-bener bikin imajinasi saya jalan dan liar, saya seolah-olah bisa ikut merasakan ada di dalam cerita itu, dan bisa ngerasain sensasi ketegangan dan keseruannya berpetualang ke dunia paralel. Dimana dunia yang digambarkan dalam novel-novel om tere seperti nyata. 


Meskipun ini novel fantasi, namun isi dari novel om tere untuk saya pribadi banyak banget ngasih pelajaran dan pemahaman. Terutama tentang persahabatan, tentang kehidupan juga hehe. Jauh dari hal percintaan (disini kelebihannya, menurut saya) 
 
Saya udah nyelesain dua petualangan dunia paralel, yaitu di klan bulan (novel BUMI) dan di klan matahari (novel BULAN), sekarang saya lagi baca serial MATAHARI, udah lagi asik siap-siap mau berpetualang lagi ke dunia paralel yang lain (klan bintang), mau berimajinasi lagi jadi Ra hehe. 
Dan saya gak sabar nunggu serial berikutnya, novel BINTANG, yang katanya om tere langsung (saat Meet & Greet) bakalan terjadi perang antar dunia paralel. Ini pasti makin seru. 
Pokoknya recommended banget lah novel fantasi nya om tere buat jadi bacaan ringan tapi tetap ada pesan yang bisa dipetik. 
Semoga ada pembaca yang suka juga dengan novel-novel TereLiye, jadi kita bisa saling pinjam novel dan nyeritain keseruan baca novel fantasinya om tere haha absurd ya :'D 
Hatur nuhun, Wassalam.


Rabu, 24 Agustus 2016

PAMIT

Saya ingin berbagi postingan sedikit yang memang postingan ini juga hasil re-post dari teman line saya, tujuan saya me-re-post agar teman-teman pembaca juga bisa mengambil makna yang tersirat dari postingan ini.
Dan untuk teman saya terimakasih telah mengizinkan mempostingan kembali postingan ini :)

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

P A M I T
oleh Ahimsa Azaleav

Aku pamit.

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya. Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.

Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis.

Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan. Perempuan itu, tiga tahun menyimpan perasaannya. Bukan waktu yang lama. Sungguh singkat sebenarnya.

Tidak ada yang tahu, tapi sesosok laki-laki yang ia beri nama “Langit” mengerti dan memahami. Sesosok laki-laki itu membuatnya memiliki harapan. Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga perempuan itu kini mendapati banyak “Langit” yang juga siap memantulkan warna birunya untuknya. Perempuan itu jengah. Bukan ia berhenti mencintai Langitnya, tapi karena ia mengerti satu hal. BELUM SAATNYA MENCINTAI LANGIT. Sungguh belum saatnya. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu.

Aku pamit.

Kalimat itu diketiknya lagi. Tapi satu persatu hurufnya ia hilangkan lagi dengan tombo lbackspace. Perempuan itu akhirnya terdiam. Ia tahu hatinya sungguh lemah. Berkali-kali kata pamit itu terucap, tapi perasaan itu belum juga mau pamit dari tuannya.

Maka ia memutuskan untuk diam, berusaha menjadi tegar. Diam-diam, ia pamit pada perasaan yang pernah ia sebut cinta. Diam-diam, ia pamit pada kata penantian yang pernah memenuhi halaman buku catatannya. Tiba-tiba, ia membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya tanpa perasaan menyesal, apalagi takut kehilangan. Diam-diam, ia berhenti mengamati gradasi warna biru yang ditampakkan Langit. Diam-diam, ia menutup semua ceritanya sendirian. Perempuan itu menjadi tegar.

Ia tengah asyik bercerita dengan taman bunganya. Ia tengah asyik bercengkerama dengan bunga-bunganya yang mekar. Ia tengah asyik mensyukuri karunia-Nya. Ia tengah asyik belajar bagaimana caranya menjadi bunga yang mekar dan indah untuk dipetik. Tidak ada yang berubah. Ia memilih pamit. Dan lihatlah, Tuhan menguatkan hatinya.

Mungkin, di suatu waktu, hari, dan tempat yang dirangkai-Nya, ia akan kembali bertemu dengan Langit. Ia harus menatap birunya, bahkan bercengkerama dengan matahari dan bulan bintangnya. Bahkan, mungkin, perempuan itu juga berkesempatan untuk menjelajahi isi Langit. Mungkin. Jika seseorang yang ia sebut Langit itu dia yang membuat ia menangis malam ini, maka memang garis Tuhan menitahkan begitu. Jika bukan, Langit itu pasti tetap biru dan membuatnya bahagia. Karena takdir Tuhan tidak akan pernah tertukar.

Perempuan itu lalu tersenyum di antara bulir-bulir air matanya. Sungguh, ia tidak tahu apa yang ada di dalam hati seseorang yang ia sebut Langit itu. Mungkin, ia masih menyimpan harapan. Mungkin, di dalam hati perempuan itu juga. Aku juga tidak tahu isi hatinya. Aku hanya seonggok buku yang pernah ditulis oleh perempuan itu. Aku pernah tahu tentang semua isi hatinya. Ah, tapi perempuan itu sekarang benar-benar merahasiakan tentang perasaannya. Yang aku tahu, penanya selalu mengatakan, “dia yang mengatakan pada yang membuatku ada, yang akan mendapatkan jawabannya.”

Kalau takdir sudah berkehendak, maka tidak ada apapun yang bisa memisahkan. Melalui pena ini, kukembalikan hati yang pernah kujaga. Kukembalikan nama yang bertahun membuatku tersenyum juga menangis. Kukembalikan kisah pada keindahan skenario-Nya. Aku ingin berbahagia di taman bungaku. Dan kamu, berbahagialah di hamparan luasmu. Bawa cahayamu jika benar kau ingin jadikanku bulan di malammu. Lakukan saja, jangan janjikan. Toh, takdir Tuhan, tidak akan pernah tertukar.

Tanpa sepatah kata pun, perempuan itu pamit. Ia pamit pada hatinya sendiri.

Tidak ada yang perlu disesali dari sebuah perasaan yang menyesakkan, karena fitrahnya manusia mengalami itu. Tapi membiarkan rasa sesak berlarut dalam penantian juga tidak baik. Lebih baik menyibukkan diri belajar, menyibukkan diri memperbaiki kualitas hati dan diri, meyibukkan diri bercerita bersama taman-taman bunga. Perempuan itu, mungkin nanti juga akan jatuh lagi. Mungkin ia akan menangis lagi. Tapi, semoga tulisan ini membuatnya ingat, bahwa takdir-Nya tidak akan pernah tertukar. Semoga tulisan ini membuatnya tegar. Semoga membuat tegar pula perempuan-perempuan lain yang tengah jengah oleh rasa sakit, rindu, galau, dan perasaan lain karena “Langit” mereka.

Kuawali cerita ini dari sebuah “selesai”. Bismillah..